Wednesday, July 25, 2007

(Info) PruLink 2 in 1 HOKI - Prudential

Tanggal: Mon, 9 Jul 2007 12:28:19 +0700
Dari: SP Printing - IND <spprint@cmksi.co.id>

Selamat siang,

kalau boleh saya minta ilustrasinya

Nama : Purwati
TTL : Jakarta,21 November 1973
Pekerjaan : staff administrasi
Merokok / tidak : tidak merokok
Jenis kelamin : perempuan
Tabungan : RP.350.000
No HP : 0815 86303430
No telp.rumah : 021 8632238
021 8607285
No telp. kantor : 021 8970230 ( ext. 225 )


> -----Original Message-----
> From: vera Lina [SMTP:vra_lina@yahoo.com]
> Sent: Monday, July 02, 2007 12:36 PM
> To: Ayah-Bunda-Anak; bandung-bisnis; bvoice; cari-iklan; indo-chinese;
> indomodelagency; Indonesian-Business; jakartapr
> Subject: [Indonesian-Business] (Info) PruLink 2 in 1 HOKI -
> Prudential
>
> Setiap Orang pasti memiliki impian. Dan semua impian itu hanya dapat
> diwujudkan dengan bekerja. Impian-impian itu antara lain :
> - Pendidikan Anak Yang Lebih Baik
> - Dana Pensiun di Hari Tua
> - Masa Depan Yang Lebih Baik
> - Dana Darurat Keluarga
> - Dll (Setiap Otang punya Impian masing-masing)
> Tetapi harus bekerja berapa lama agar dapat mewujudkan impian-impian itu ?
> Sampai usia berapa Bapak / Ibu akan bekerja ?
> Apakah cukup hanya 10 sampai 20 tahun ?
> Bagi yang mendapat asuransi dari kantor, apakah setelah tidak bekerja
> masih mendapat proteksi ? (karena tidak semua orang yang berusia lanjut
> masih bisa bekerja )
> Apakah Asuransi dari kantor bisa menjamin kelanjutan hidup keluarga kita ?
> Siapa yang bisa mengira apa yang akan terjadi dengan kesehatan kita ?
> Apalagi kita tahu bahwa sakit kritis bisa diderita oleh siapa saja.
> - Banyak wanita menderita Kanker Payudara & Kanker Rahim.
> - Banyak Pria menderita Serangan Jantung.
> Ditambah lagi banyaknya kecelakaan di darat, laut maupun udara.
> Jika Terdiagnosa SAKIT KRITIS seperti KANKER, SERANGAN JANTUNG, KOMA,
> STROKE, Mengalami nasib yang sama seperti para penumpang angkutan darat,
> laut dan udara yang mengalami kecelakaan, dbs.
> Apakah impian-impian tersebut masih bisa tercapai ?
> Masih dapatkan kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ?
> Apa yang akan terjadi dengan keluarga yang kita kasihi ? Bagaimana
> kelanjutan hidup mereka ?
> Bagaimana dengan sekolah anak-anak ? Apakah anak-anak yang masih kecil
> sudah harus bekerja ?
> Apakah mereka harus menderita ?
> Berapa banyak uang yang diperlukan untuk biaya pengobatan ?
> Apakah harus menggunakan uang tabungan yang sudah dipersiapkan untuk anak
> & istri ?
> Apakah harus menjual asset kita ?
> Apakah harus membebani orang tua ? Padahal belum tentu orang tua kita
> masih bekerja.
> SEGALA KEKHAWATIRAN BAPAK / IBU / SDR / SDRI bisa teratasi dengan PruLink.
> Dengan PruLink, Segala impian itu masih bisa tercapai.
> Dengan PruLink, Tidak perlu mengkhawatirkan Biaya Pengobatan Yang Mahal.
> Dengan PruLink, Keluarga akan mengerti betapa mereka dikasihi.
> Dengan PruLink, Segala kebutuhan keluarga akan terpenuhi.
> Dengan PruLink, Tidak perlu Menjual Asset sebagai biaya pengobatan.
> PruLink memproteksi Income Anda.
> Berikut Sedikit Gambaran untuk Bapak / Ibu / Sdr / Sdri.
> Contoh :
> Bp. Ali ingin menabung 2jt setiap bulannya. Ada 3 alternatif menabung yang
> dapat dipilih, yaitu :
> Alternatif 1 : Menabung di Rekening Biasa
> Jika terjadi sesuatu pada Bp. Ali di bulan ke-4, contoh : dia sakit kritis
> (Jantung, Kanker, Stroke, Koma, Dll) dan dokter minta disediakan uang
> Rp.300jt, apakah bank dapat memberikan uang sejumlah Rp. 300jt ??
> (Saldo Bp. Ali baru berjumlah Rp. 6jt)
> Alternatif 2 : Menabung di Rekening Biasa & Asuransi
> Jika kejadiannya sama seperti diatas, maka Prudential akan memberikan uang
> Rp. 300jt (Langsung) pada Bp. Ali untuk berobat. Tetapi apakah masalah Bp.
> Ali selesai ?? Bagaimana dengan nasib tabungannya yang akan digunakan
> untuk dana pendidikan anak-anak dan dana pension ? Dapatkan Bp. Ali yang
> sedang sakit bekerja secara optimal dan meneruskan tabungannya ?
> Alternatif 3 : Menabung di Prudential ( 2 in 1 HOKI )
> Jika kejadiannya sama seperti diatas, Bp. Ali akan diberikan uang Rp.
> 300jt untuk berobat dan selanjutnya Bp. Ali tidak perlu menabung lagi
> karena tabungannya otomatis akan terisi terus-menerus (setiap bulannya Rp.
> 2jt) sampai dia berumur 65 tahun dan dana yang ada ditabungannya dapat
> digunakan untuk dana pendidikan anak-anak dan dana pension.
> Kelebihan menabung di 2 in 1 Hoki, perusahaan akan memberikan dana darurat
> kepada Bp. Ali sampai dia berumur 65 tahun jika terjadi : 1. Sakit
> Kritis (34 Jenis Sakit Kritis seperti Jantung, Kanker, Stroke,
> Koma, Parkinson, Dll) 2. 2. Cacat karena sakit atau kecelakaan.
> 3. Sakit yang mengharuskan dia masuk ke Rumah Sakit.
>
> Jika Bp. Ali meninggal di bawah usia 99 tahun, keluarganya juga
> mendapatkan sejumlah dana.
> Menurut Bapak / Ibu / Sdr / Sdri, alternative menabung mana yang paling
> baik dipilih ?
> Banyak orang yang belum tahu adanya alternative menabung di 2 in 1
> Hoki. PT. Prudential Life Assurance mempersembahkan Tabungan
> sekaligus Jaminan
> Asuransi Jiwa (Kecelakaan, Cacat, Rawat Inap, ICU, Kondisi Kritis
> lainnya). Tabungan dapat diwambil sewaktu-waktu atau berjangka (Untuk Dana
> Pendidikan, Dana Pensiun, dll). Perusahaan ini berasal dari Inggris
> (telah membuka cabang di seluruh
> dunia) dan telah mengelola Dana Keuangan selama lebih dari 150 tahun.
> Usia 25 tahun ------------ --------- - s/d ------------ ------- Usia 55
> tahun
> Dapatkah kita JAMIN tidak akan terkena SAKIT KRITIS, Cacat Tetap Total
> atau MENINGGAL ??
> Karena itulah orang membeli Asuransi Kehidupan.
> Bukan karena seseorang akan tiada, tetapi karena orang yanganda cintai
> harus terus hidup dengan bahagia. Fleksibel ~ Kebebasan Finansial ~
> Perlindungan Keluarga ~ Perlindungan
> Kesehatan ~ Pendidikan Anak-anak ~ Dana Pensiun Menurut Majalah
> Independen "Investor", asuransi jiwa terbaik tahun 2002
> sampai 2006 adalah asuransi jiwa Prudential, tentunya prestasi tersebut
> dicapai karena kinerja dan kekuatan financial yang solid dari sebuah
> perusahaan, karena penghargaan yang ada didapat selama 5 tahun
> berturut-turut.
> Bagi teman-teman sebagai pencari nafkah apakah anda sudah diproteksi ?
> Sebab dari hasil survey terhadap 1000 duda vs 1000 janda :
> 1. Rata-rata duda lebih banyak menikah lagi (mengurus anak-anak /
> keluarga) 2. Rata-rata janda menikah lagi karena terpaksa (alasan ekonomi)
>
> Untuk melihat hasil Tabungan + Uang Pertanggungan yang akan diterima jika
> menabung dalam Rekening Khisus ini silahkan kirimkan data-data anda
> sebagai berikut :
> - Nama Lengkap
> - Tanggal Lahir
> - Pekerjaan (Ex. Marketing, Finance, dll)
> - Merokok atau Tidak
> - Jenis Kelamin
> - Akan menabung berapa Rupiah per Bulan (Rp. 350rb / Rp. 500rb / Rp. 1jt /
> Rp. 2jt)
> - No. Telp / Hp yang bisa saya hubungi
> Setelah membaca tulisan diatas apabila Bapak / Ibu / Sdr / Sdri memutuskan
> ingin mengambil asuransi jiwa namun belum mengerti benar tentang asuransi
> jiwa atau bingung memilih karena banyaknya asuransi jiwa yang ada,
> silahkan menghubungi saya :
> Vera : 021-68788494 atau 0852-10665533
> Best Regards,
> Vera

----------------------------------------------------------------
This message was Sent by Takaful Mail System

Mengapa Gaji Sulit Naik ?

Tanggal: Tue, 24 Jul 2007 00:13:06 -0700 (PDT)
Dari: Isywara Mahendratto <isywaramahendratto@yahoo.com>

Keputusan untuk menaikkan gaji ataupun tunjangan karyawan bukanlah
langkah yang lazim diambil perusahaan sebagai sebuah strategi
"bertumbuh".

Sekali keputusan diambil, semenjak itu pula biaya tambahan menjadi
"pasti" dan tidak mungkin "turun", sementara jaminan peningkatan
"omzet", belum tentu terjadi.

Disisi lain, ketidak mampuan perusahaan untuk memenuhi tuntutan
kenaikan gaji karyawan akibat pengaruh inflasi beresiko menurunkan
kinerja karyawan.

Penurunan kinerja karyawan berarti pula melambatnya laju
pertumbuhan usaha atau lebih buruk lagi menjadikan perusahaan semakin
uzur dan renta (pinjam syair Ebiet G. Ade).

Apa yang dapat perusahaan dan karyawan lakukan ?

Bersinergilah antara perusahaan dan karyawan secara sehat.

Bagi perusahaan, berfokuslah hanya pada "penyempurnaan" sistem
sedang bagi karyawan berfokuslah hanya pada "peningkatan" kompetensi.

Gunakan alat manajemen seperti ISO, Balance Score Card, Kaizen dsb.
benar benar sebagai alat peningkatan manajemen, bukan tujuan. Dan
karena yang menjalankan sistem adalah karyawan, berdayakan mereka dan
jika perlu fasilitasi karyawan agar "mengerti" bahwa kompetensi dan
bekerja secara team adalah kepentingan pribadi mereka. Dengan demikian
perusahaan berpotensi terus tumbuh dan mampu mensejahterakan
karyawannya dan yang terpenting tentunya "profit" perusahaan
berpotensi meningkat.

Demikian halnya dengan karyawan…. Jadikan perusahaan sebagai sarana
peningkatan kompetensi. Kalaupun perusahaan diuntungkan dengan
kontribusi Anda, itu merupakan konsekwensi logis karena Anda bekerja
di perusahaan tersebut. Kalaupun sistem perusahaan sedemikian buruk
sehingga kompetensi Anda tidak dihargai, maka penuhi rancangan karir
Anda yaitu hanya bekerja di perusahaan yang menghargai kompetensi Anda.

Dengan demikian "harga diri" (dan pendapatan ? ) Anda akan semakin
meningkat dan diperhitungkan.

Isywara Mahendratto

http://servocenter.wordpress.com/

----------------------------------------------------------------
This message was Sent by Takaful Mail System

[Indonesian-Business] gak usah repot dengan MLM

Tanggal: Fri, 20 Jul 2007 15:32:22 +0700 (ICT)
Dari: Atik S <atik_empat@yahoo.co.id>

MLM...?
wah mohon maaf tanpa mengurangi salut saya pada para pakar MLM,
saya sudah tidak ingin lagi bergabung di MLM.
Saya sudah banyak bergabung di MLM, tetapi semua tidak ada hasil
kecuali stock produk yang menumpuk dirumah akhirnya dibagikan ke
saudara2 yang datang secara gratis, daripada expired. Belum lagi modal
keluar yang terhitung tidak kecil, dan tidak akan pernah kembali. Saya
yakin, sebagian besar dari kita yang pernah terjun di MLM pasti
merasakan hal seperti saya. Kalaupun ada yang berhasil, persentase-nya
pasti sangat jauh lebih kecil.

Saya sekedar ingin sharing saja dan bagi yang mau, saya ajak
mempelajari sistem investasi yang sekarang ini saya bergabung, yaitu
SwissCash.
Silahkan bandingkan dengan sistem MLM yang anda jalankan, dan anda
ambil kesimpulan sendiri. Tentu kita (anda dan saya) bergabung di MLM
dengan tujuan ingin mendapatkan income kan? Walaupun di MLM selalu
didengungkan juga mendapat kesehatan, teman baru, wawasan baru
dll.dll. tetapi diatas semua itu, dengan sebagian besar waktu tenaga
dan modal yang kita korbankan, tentu tujuan utamanya adalah
mendapatkan income.
Nah kalau kita ada uang, kalau kita perlu suatu produk, tinggal
beli saja kan...?

FYI, seorang teman saya dulu sangat aktif di MLM , sampai belasan
MLM diikuti. Dibandingkan dan ditekuni. Hasilnya pun OK, bisa mencapai
jenjang tinggi di tiap jenis MLM. Dengan sendirinya dia mengetahui
kelebihan dan kekurangan pada sistem yang berlaku di setiap MLM.
Pada akhirnya setelah saya ajak ke seminar SwissCash ini, semua
kegiatan MLM - nya di nonaktifkan. Dia ikut bergabung. Banyak
pertimbangannya, diantaranya dari segi waktu, modal yang keluar,
pusing yang didapat, dll. . Padahal bila dibandingkan dengan income
yang masuk sangat berbeda jauh sekali. Jadi, kenapa harus stuck di
MLM...? Gitu katanya...

Tentang SwissCash, ringkasnya begini :
Di SWISSCASH modal investasi kita digaransi/dijamin oleh "SWISS
MUTUAL FUND" sebuah wahana investasi terbesar di dunia yang sudah
berdiri selam 60 th dan telah membantu perusahaan-perusahaan besar
mencapai tujuan keuangan mereka yang unik. ROI sebesar 25% per bulan,
selamanya, unlimited period. Sehingga dengan demikian dalam 4 bulan
saja modal sudah kembali..


Mengapa SwissCash, karena :
* NO RECRUITING -Anda mendapatkan pengembalian bulanan tanpa
perlu mengerjakan apapun. Anda tidak perlu merekrut, membawa obat,
menjual alat dapur atau presentasi secara menyala-nyala. Tetapi dengan
berbisik-bisik kepada tetangga sebelah, teman sekolah, rekan sekantor
atau teman dalam perjalanan, Anda akan mendapatkan penghasilan
tambahan selain pengembalian investasi Anda.

* NO PHYSICAL PRODUCTS - Investasi adalah produk Anda. Tidak ada
persoalan pengiriman, pengantaran dll. Setiap orang bisa mendapatkan
produk investasi di mana saja. Gampang dan murah.

* NO STOCKING - Tidak perlu stock. Rumah Anda tidak lagi dipadati
produk-produk tak berguna, atau limbah dari produk tersebut.

* NO MEETINGS - Tidak perlu membuang waktu untuk ikut Gebyar sana,
gebyar sini. Tidak perlu presentasi yang buang waktu dan tenaga.

* NO TRAINING - Tidak perlu latihan khusus. Sederhana: invest,
diam, dapat duit.

* NO TRAVELING - Tidak perlu perjalanan. Hemat energi dan tenaga.
Anda bisa bekerja dari rumah.
SwissCash sesungguhnya bisnis impian masa depan kita. Anda dapat
melakukannya dari rumah Anda yang nyaman, atau dari mana saja yang
penting bisa akses internet.

Minimal invest adalah US$100, tetapi disarankan US$1000
Karena jika Anda investasi US$1000 atau diatas US$1000 maka :
1. Income setiap bulan, 25%.
2. Bisa Rekrut Member (kurang dari $1000 tidak dapat merekrut, bonus
rekrut 10% dari investasi member baru).
3. Return yang lebih cepat.

Berapapun investasi Anda, tiap bulan pasti dapat duit, pasti..!!!


New member :
FREE MEMBER dan investasi, klik: http://www.swisscash.net/idpud5014901

Info lengkap dalam Bahasa Indonesia klik : http://DuaSatu.Com/?id=atik

Silahkan daftar (gratis) untuk mendapatkaninfo lengkap.


Seminar Exclusive (gratis) ada setiap hari Sabtu, info selanjutnya
silahkan japri saya atik_sutardjo@link.net.id
Ok, demikian dulu, GBU


salam,
~Atik~
0816 195 9594 - Jakarta
Japri : atik_sutardjo@link.net.id

liem <liem.ing.tjiok@astra-honda.com> wrote:
Salam,

Ikut nimbrung ni...
Menurut saya, Marketing Plan masing-masing MLM tidak sama dan ini
memang mempengaruhi income yg akan kita dapatkan.
Sebagai gambaran, dengan membangun jaringan yg sama dan omset yg
dihasilkan sama, namun bonus yg akan diterima tidaklah sama.

Hal ini pulalah yg perlu kita ketahui dan sedikit banyak harus kita
pelajari kalau ingin terjun di bisnis MLM.
Bukan berarti kita mesti memilih MLM yg terbaik di MP nya tetapi yg
perlu kita lihat adalah mau fokus tidak kita di MLM tsb.
Dan keuntungan di MLM adalah kita independen, jadi mau terus dan
tidaknya diri kitalah yg memutuskan.
Banyak member MLM yg berpindah-pindah dan akhirnya menemukan yg
cocok dgn keinginannya akhirnya menjadi besar disana.
Saya tidak mengajak anda untuk berpindah-pindah MLM, tetapi
pelajari MP, Support System, Perusahaan dan Kualitas produk yg utama,
setelah cocok barulah anda fokus.
Tetapi juga jangan belajar terus tanpa tindakan, karena tanpa
tindakan anda hanya akan menjadi Pecundang.

Dan seperti yg pak Irvan katakan adalah benar bahwa MLM tidak
sekedar Profit dan Income saja, tetapi pendidikan bisnisnya yg perlu
menjadi pertimbangan juga.
Jangan sampai anda masuk MLM dan hanya menjadi Object bagi Upline
anda untuk pemasaran produk.

Ingat di MLM anda adalah INDEPENDEN BISNIS OWNER
Dan anda hanya bisa SUKSES kalau anda BISA membuat MITRA KERJA (
DOWNLINE ) ANDA SUKSES.

Selamat bagi anda yang menjalani bisnis MLM, tetap semangat untuk
menggapai impian anda.

Salam Sukses,
Liem Ing Tjiok
08161856125

---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
Yahoo! Answers

---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
Yahoo! Answers

----- Akhir pesan yang diteruskan -----


----------------------------------------------------------------
This message was Sent by Takaful Mail System

Vacancy at Tantowi Yahya Public Speaking School

Tanggal: Mon, 23 Jul 2007 06:43:38 -0000
Dari: fico_fiki <ficomaulana@gmail.com>

lowongan di Tantowi Yahya Public Speaking School


Marketing Executive
(Jakarta Raya - Jakarta Selatan)

Responsibilities:

* Achieve sales target and gain the proper market segment.
* Develop, maintain and share customer database with the
management for strategy formulation.
* Promote the company products to highly prospective customers.
* Able to withstand high pressure and stressful working environment.
* Preserve company reputation and value in every situation.

Requirements:

* Candidate must possess at least a Diploma Degree in any field.
* Required skill(s): Prospecting, Presentation, Business Development.
* Preferred skill(s): Telemarketing, MSOffice.
* Required language(s): Bahasa Indonesia, English.
Background in Company Training Provider and/or Professional Education
highly preferred.
* Required language(s): Bahasa Indonesia, English.
* 2 Full-Time positions available.
* Fresh Graduate are welcome to apply

sent your cv and application to

hrd@tantowi-yahya.com

or

Tantowi Yahya Public Speaking School
Wisma Dharmala Sakti
Jl. Jenderal Sudirman Kav.32 Jakarta 10220
www.tantowi-yahya.com

----------------------------------------------------------------
This message was Sent by Takaful Mail System

7 Steps to Analyzing Your Talent

Tanggal: Tue, 24 Jul 2007 10:46:24 +0700
Dari: HRD Forum <hrd.forum@gmail.com>

Free HR Article
7 Steps to Analyzing Your Talent
The "New" Employee Contribution Rate

Imagine receiving a balance sheet from your accountant or CFO and the
report listed line item after line item but neglected to identify
which ones were assets and which ones were liabilities.

If in turn you asked the HR professionals in your organization,

"What is your employee contribution rate?" you'd likely hear about the
matching rate the company offers to employees for its retirement or
profit-sharing plans?

While this is important to know, it really doesn't indicate what your
employees contribute to the bottom line. What is important these days
is getting a handle on how each employee's role in the company adds
value to the organization and contributes to its financial goals.
Understanding the link between individual productivity and
organization performance requires metrics, human capital metrics to be
exact.

How good are human resource professionals doing at demonstrating human
capital metrics? All you need to do is ask them. You'll likely hear
about the cost to hire, time to fill jobs, and turnover rate. While
important to know, these HR functions don't necessarily have any
strategic importance. In other words, they don't create new value,
they manage costs.

The first thing any executive, manager, or owner responsible for the
development and execution of its organization's strategy must ask is:
How do our employees create value in our organization? Linking people
to value creation shifts the focus from efficiency measurements to
effectiveness metrics.

Human resources departments typically measure levels of customer
satisfaction.and then stop there. To become an internal strategic
partner with the company, it must now link what levels of customer
satisfaction are needed to improve the quality of the buying
experience and then how much each percentage increase in a buyer's
satisfaction adds to the strategic performance of the organization.

How does this make a difference? How many organization's over the past
few years reduced recruitment costs, cut benefits as a percent of
revenue and lowered their turnover rates to below the industry average
but didn't make any money? Staying within the budget is efficient.
It's not always effective.

But moving HR from the guardians of the piggy bank and
"touch-and-feely" training to the managers of the organization's most
important assets requires a new perspective and a new set of
measurements. While helpful as it is to measure your effectiveness
against your competitors, the ultimate test of performance comes in
the form of market share and profitability. If you don't own the
market share you want and you're not making a profit, then who cares
that you lead your industry in retaining employees?

More to the point, HR metrics defined by external industry benchmarks
really measure the effectiveness of HR. Key metrics like expected
human capital return (EHCR) and actual human capital return (AHCR)
measure how effective the workforce is at delivering a strategic
return on performance in return for the salaries and benefits paid to
them.

Therefore the function of HR is not ensure that it meets or exceeds
industry HR or community business standards but to know at what point
a worker's output exceeds the cost of training and paying employees to
show up for work. It should be telling management how well its
workforce is meeting the needs of its own business. Beginning right
now, HR must be held accountable for how well its workforce
contributes to achieving the goals of the business.

Thinking strategically means that human capital metrics show how
retaining an employee adds to the bottom line. Using a buzzword, you
are "aligning" your people with the company. Identifying the right
metrics also establishes the baseline to know when employee tenure
without continuous improvement costs the company money and when even
marginally effective individual performance cuts its competitive edge.

Although not an easy task, many HR professionals are trying hard to
think like "business people." But these people are the pioneers, which
means there are no well-defined maps to follow. Making the project
even more challenging is the fact that the right measures will be
unique for each organizations. Even if best practice strategies and
metrics were available, they might not be right nor relevant for you.

I don't propose that I have all the right answers. In fact, I'll be
the first to admit that I may have more questions than answers. But
when it comes to what I'll refer to as talent-analytics - a reliable
method to identify how a highly successful employee will contribute
now and in the future to the financial well-being of the business - we
do have a solution for managers.

As a result of working within dozens of organizations - small and
large - over the past 3 years on identifying the core competencies of
highly successful employees, we have begun to identify key links
between individual personality traits, values and abilities and peak
performance.

Below are the steps our clients have used to establish top performer
profiles that align employees' skills and abilities with needs of the
business.

--------------------------------------------------------------------------------

7 Steps to Analyzing Your Talent.

Step 1. Clearly identify your company's vision, mission and values.
(Pay attention to the word "clearly".)

Step 2. Define your strategy to achieve your purpose and live by your values.

Step 3. Identify how each individual - from line worker all the way up
to the CEO - within your organization contributes to executing the
strategy.

Step 4. What performance baselines do they need to achieve in order
that organization meets its goals?

Step 5. Establish the base set of core competencies that individuals
need to demonstrate both the capability, proficiency, and commitment.

Step 6. Create a top performer profile that aligns specific
personality traits, values and abilities with key performance
indicators.

Step 7. Structure a selection process combining behavioral interview
techniques, background and reference checking, and psychometric
testing that accurately and reliably predicts an individual's
capacity, skill and motivation to do a job.

--------------------------------------------------------------------------------
Talk about taking HR out of its comfort zone. Calculating the rate of
return of investment of an employee sounds cold and well.calculating.
It is. And that flies in the face of many HR professionals entered the
profession in the first place. But with global competitiveness on the
rise and the availability of skilled labor on the decline, business
success will go to the organizations that create a unique operating
proposition - a high performance workforce. Replicating technology and
process is easy. Replicating human performance is not. The competitive
edge will go to those organizations that link the mix of the right
talent to the bottom line.
Read More :

a..
a..
a.. Steps To Improving Retention Through Management
b.. Attracting Great Employees in a Tight Market
c.. The Halo Effect
d.. Six Steps To A Motivated Business Culture
e.. Cross training makes a strapping staff
f.. Protect Your Toes
g.. 7 Steps to Analyzing Your Talent
h.. 7 Secrets for Hiring Success
i.. Screening versus Testing; A Bottom Line Process fo...
a.. Key Performance Indicators (KPI)
b.. Human Resource Planning: an Introduction
c.. Human Resources Management
d.. On The Line: Our "Dead" Strategic Plan
e.. Management File - What IS The Point Of Performance...
f.. Why Improving Performance Management Systems Is So...
g.. Success File - Fast Track To Promotion & Recogniti...
h.. A Quick Guide To Employee Orientation - Help For ...
i.. From The Corporate File - The Role Of Human Resour...
j.. HRM - Measurement and Assessment Problems
k.. HRM policies and their consequences
l.. The Harvard Map of HRM
m.. Cross training makes a strapping staff
n.. Making the most of psychometrics
o.. The Top Ten Managerial Competencies
p.. 7 Secrets for Hiring Success
q.. How to Hire The Million Dollar Salesperson
r.. 360 Degree Feedback: Mistakes Managers Make and Ho...
s.. Screening versus Testing; A Bottom Line Process fo...
t.. Smart actions for your Appraisal Discussions
u.. HRD: Not Everyone's Cup of Tea
v.. Stress Management -Strategy & Techniques
w.. A Checklist For Preventing Human Resources Problem...
x.. Employee Handbooks - Protecting A Valuable Company...
y.. The Role of the Trainer
z.. The miracle of learning
aa.. The Psychology of Expertise
ab.. Knowledge Management
ac.. eHR and Web-based HR Systems - Part 2
ad.. eHR and Web-based HR Systems
ae.. HR Systems Still Disappointing
af.. Rescinding A Resignation
ag.. HR Practice Tip: Reduce the Pain of Performance Ev...
ah.. Exit Interviews: Constructive Feedback, Smoother T...
ai.. From War of the Worlds to Group Hug:
aj.. The Ultimate Retention-Reward System
ak.. Taking on the Competition with Core Competencies
al.. Change Is Not About How, It's About Who
am.. Attracting and Retaining Top Talent - The Key To C...
an.. HR Practice Tip: Reduce the Pain of Performance Ev...
ao.. Challenges for HR Professionals in the Knowledge I...


----- Akhir pesan yang diteruskan -----


----------------------------------------------------------------
This message was Sent by Takaful Mail System