Tuesday, October 28, 2008

" Si Bapak Tua "

Siang hari, suasana pelabuhan Tanjung Priok ini sungguh sangat
menyengat. Panas dan gersang sudah merupakan cuaca yang akrab ditemui di
sini. Dengan langkah malas aku menuju ke warung nasi terdekat untuk
mengisi perut ini. Terlihat di sekitarku kegiatan bongkar muat di
pelabuhan. Kontainer yang naik dan turun dari kapal laut, para pekerja
yang sibuk mengangkut barang yang akan dikirimkan, dan para mandor yang
sibuk berteriak mengatur para pekerjanya. Truk besar kecil, truk
kontainer, forklift dan kendaraan lainnya yang tak hentinya berlalu
lalang. Kegiatan di sini tak pernah ada kata diam.

Selesai makan, aku langsung menuju kantorku. "Lebih baik aku di kantor
yang sejuk daripada di luar yang sudah pasti panas dan membuat
berkeringat ini." Ah, sejenak kulihat pekerja-pekerja yang tanpa komando
berjalan teratur menuju sebuah kontainer. Rupanya ada perusahaan yang
sedang melakukan bongkar muat gula pasir. "Pasti ini impor deh, dan yang
sudah pasti ketahuan ruginya dalah para petani gula lokal kita," batin
ini menyelisik.

Angkat karung, turunkan, angkat lagi, turunkan. Kuperhatikan dari jauh
apa yang dilakukan pekerja itu. Tunggu dulu, aku lihat seraut wajah
bapak tua yang masih menjadi pekerja. Dari garis mukanya kutaksir dia
sudah tidak pantas untuk bekerja sekeras ini. Duh, hati ini seperti
teriris. Esok lusa aku sempat berpapasan dengan bapak tua itu yang
sedang menikmati sarapannya di sebuah gudang tua. Dari perawakannya dia
masih tampak bugar walaupun guratan-guratan ketuaan sudah jelas tampak
di sana sini. Segera kusapa dia, "Sedang sarapan, Pak?" tanyaku.

"Ya, Dik. Buat isi perut. Adik yang kerja di kantor itu?" dengan logat
sunda kulon kental dia balas bertanya sambil menunjuk ke arah kantorku.

"Ya, Pak. Bapak sudah lama kerja di sini?" aku mulai mencari tahu.

"Yah, begitulah. Bapak sudah puluhan tahun di sini. Maklum, pendidikan
minim, daripada menganggur. Saya harus menghidupi keluarga," jawab si
Bapak dengan raut sedikit muram.

Sambil membungkus sisa nasi yang tadi dimakan, lalu diselipkan di sela
dinding ruangan tempat dia istirahat. Di tempat itu banyak juga pekerja
lain yang istirahat di sini.

"Nasinya buat nanti siang lagi, lumayan buat ngirit," jelas si Bapak
tanpa menunggu aku bertanya.

"Saya mengerti, Pak. Semoga Allah memberikan barakah atas setiap rezeki
yang Bapak peroleh," aku menjawab dengan senyum getir dan juga sayatan
pilu kembali di hati ini. Sungguh aku terhenyak melihat enyataan di
hadapanku ini.

Si Bapak juga menjelaskan bahwa ia dibayar perkarung yang dia angkat
sebesar seratus rupiah. Ya Allah, berapa karung yang harus ia angkat
supaya bisa mencukupi kebutuhan keluarganya di kampung sana. Aku
langsung terdiam dan merasa malu pada diri ini yang kadang tidak puas
akan rezeki yang Allah berikan.

"Alhamdulilllah, kalo bisa bawa pulang dua ratus ribu buat keluarga di
rumah," lanjutnya.

"Makasih, Pak. Nanti kita sambung lagi," sambil tersenyum aku pamit,
karena jam kerja sudah dimulai pagi ini.

Dengan langkah gontai aku kembali ke kantor dan meneruskan pekerjaanku
sebagai teknisi. Terekam jelas perdebatan beberapa kawan kerjaku
beberapa hari yang lalu yang ingin segera menuntut naik gaji.
Pembicaraan yang alot yang kulihat rona wajah penuh ambisi tak berujung
di wajah mereka. Sungguh, aku sudah tak bersemangat lagi mengikuti
pembicaraan kawan-kawan mengenai hal itu setelah mengobrol dengan si
Bapak Tua.

Pesan bapak mertua di rumah juga masih kuingat baik-baik, "Nak,
bekerjalah bersungguh-sungguh, jika kau tidak suka atau kurang puas,
silahkan keluar. Itu lebih jantan daripada kamu membuat hal yang tidak
baik di tempat kerja. Banyak bersyukur karena tidak banyak orang yang
bisa bekerja saat ini." Sangat kontras apa yang Allah perlihatkan
kepadaku kali ini. Semoga setiap diri ini bisa bersyukur dan istiqomah
dalam syukurnya kepada Dzat Yang Maha Pemberi.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Allah mengatakan; "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS
Ibrahim: 7)

Sumber : Anonymous

Motivation of The Day : " Kisah Beruang "

Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar
di tepi sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.

Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar
air. Namun, tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah
berkali-kali mencoba, akhirnya..hup .. ia dapat menangkap seekor ikan
kecil.

Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan, si ikan kecil itu meratap
pada sang beruang,

"Wahai beruang, tolong lepaskan aku."

"Mengapa ?" tanya beruang.

"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat
celah-celah gigimu," rintih sang ikan.

"Lalu kenapa?" tanya beruang lagi.

"Begini saja,tolong kembalikan aku ke sungai, setelah beberapa bulan aku
akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di saat itu kau bisa menangkapku
dan memakanku utk memenuhi seleramu." kata ikan.

"Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanya
beruang

"Mengapa?" ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan
yang telah tergenggam di tangan !" jawab beruang sambil tersenyum
mantap.

"Ops !" teriak sang ikan.

Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita
tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima
kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu
saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di
kemudian hari, saat kita harus berucap :"Ohhhh... andaikan aku tidak
menyia-nyiakan kesempatan itu dulu ..!!!?. Maka bijaksanalah pada hidup,
hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita.

Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;....
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan;
....

Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ....
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali
yang terbaik untuk hidup kita....

Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara
yang besar.

Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi
kesempatan yang besar.

Baca juga artikel motivasi lainnya hanya di :

http://www.beraniegagal.com

Motivation of The Day : " 'Telur Emas' dari Diri dan Keluarga "

Sebuah dongeng rakyat yang sampai sekarang masih cukup terkenal, dan
sampai sekarang tetap saya ingat karena telah memberikan inspirasi yang
mendalam bagi saya. Dikisahkan seorang peternak angsa, memiliki begitu
banyak angsadi peternakannya. Sang peternak adalah seorang yang rajin
memelihara angsa-angsanya, hanya saja karena pengelolaan peternakannya
yang sederhana dan tidak pernah diupayakan untuk ditingkatkan, maka
hasil telur dari angsa-angsa ini selalu begitu-begitu saja tidak pernah
memberikan peningkatan penghasilan bagi sang peternak.

Suatu pagi, seperti biasa sang peternak bangun dari tidurnya dan
bergegas menuju kandang-kandang angsanya untuk segera mengumpulkan
telur-telur yang dihasilkan si angsa hari itu. Betapa terkejutnya sang
peternak ketika mendapati sebuah telur berwarna kuning keemasan dari
seekor angsa tua di kandang paling ujung.

"Siapa yang pagi-pagi telah berusaha mempedayai saya.", gumamnya dalam
hati sambil memungut telur keemasan tadi. "Mungkinkah ini sebuah telur
dari emas", pikirnya kemudian.

Lama dia berpikir me-logika terhadap apa yang terjadi dengannya pagi
itu, sambil terus memandangi telur keemasan digenggamannya. Merasakan
beratnya, mengetuk-ngetukkannya pada batu, menggores-goreskannya, sampai
pada suatu keyakinan dalam hati pak peternak bahwa dia harus bergegas
memastikan benda apa itu.

Bergegas dia menuju ke tempat ahli logam tak jauh dari rumahnya, yang
kemudian dia meminta sang ahli logam untuk menganalisa benda apakah yang
dia temukan pagi itu. Sang ahli logam mengambil lup-nya, yang kemudian
mencermati telur keemasan yang diterimanya.

Beberapa saat kemudian dia memandangi si peternak, sambil menyerahkan
telur tersebut dan berkata, "Ini adalah emas murni 24 karat berbentuk
bulat telur dengan berat hampir satu kilogram..!".

Setengah tak percaya si peternak kemudian meminta sang ahli logam untuk
menukar telur emas tersebut dengan uang sesuai dengan taksiran harganya.

Segepok uang yang diterimanya kemudian segera dibelanjakan segala barang
yang dia impikan selama ini untuk dimiliki dari pakaian-pakaian yang
bagus dan mahal, perabot-perabot mahal, dan sebagainya.

Esok harinya, karena masih banyak sisa uang untuk hidupnya hari itu,
dengan langkah malas dia menuju ke kandang angsanya untuk memunguti
telur-telur hasil pada hari itu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa
kejadian telur emas kemarin hari akan berulang lagi pada hari itu. Dan
benar dia kembali menemukan telur emas pada angsa yang sama. Bergegas
dia berlari menuju kota untuk kembali menjual telur tersebut.

Esok paginya setelah bangun pagi, dengan berharap-harap cemas dia
kembali menuju angsa tua petelur emas. Dan benar! Kembali sang angsa
mempersembahkan satu telur emas kepada sang peternak.

Hal yang sama terjadi esok paginya, esok paginya, dan seterusnya,
sehingga membuat si peternak menjadi rajin bangun pagi-pagi sekali untuk
sekedar segera mendapat telur emas dari angsa tua itu.

Dalam waktu singkat, kehidupan si peternak pun berubah. Si angsa tua
juga sudah diberi tempat khusus di sebelah kamar tidur si peternak agar
telur emas hasil si angsa tua tiap pagi tidak dicuri orang dan dengan
mudah dapat segera diambil oleh sang peternak untuk dijual. Rumahnya
kini telah berubah menjadi begitu mewah. Lama kelamaan timbulah sifat
tamak dari si peternak.

"Mengapa saya harus menunggu satu butir telur emas setiap harinya dari
si angsa tua", pikirnya.., ..betapa bodohnya saya.". "Isi perut angsa
tua itu pastilah penuh dengan emas,.kenapa tidak sekarang saja saya
ambil semuanya, sehingga saya tidak perlu susah-susah menunggu tiap
pagi, serta dalam sekali waktu saya sudah bisa dapatkan semua.",
begitulah pikir sang peternak.

Diambilnya parang besar miliknya, dan dalam sekejap dibelahlah dada si
angsa tua. Tapi apa yang terjadi? Tak ada secuil pun telur emas di dalam
perut si angsa tua. Dan yang lebih buruk, si angsa tua saat itu juga
mati digenggaman sang peternak. Telur emas tiap pagi pun tinggal
kenangan.

Cerita ini terkenal dengan sebutan Aesop's fable dengan judul `The goose
and the golden eggs'. Mengapa cerita ini begitu menarik bagi saya?
Seseorang yang telah menginjak dewasa dan mulai harus menghidupi dirinya
tentunya mulai sadar bahwa dia harus memiliki `sesuatu' yang bisa
dijadikan semacam modal agar dia bisa selalu terus menerus menghasilkan
*sesuatu* yang
bisa menghidupi dirinya. Apalagi kalau orang tersebut sudah memutuskan
untuk
membangun sebuah rumah tangga.

`Sesuatu' (dengan tanda kutip) yang saya maksud bisa berupa keahlian,
kepandaian, pengetahuan, ketrampilan, ketekunan,keberanian, dsb. Sedang
sesuatu (dengan huruf tebal) di atas adalah bisa berupa uang,
penghargaan, pengakuan, kesempatan, dsb.

Sesuatu (dengan huruf tebal) tadi adalah sebuah `telur emas' bagi kita.
Ketika kita mulai menekuni sebuah profesi, ketika kita mulai merintis
sebuah usaha, ketika kita mulai meniti karir, hari demi hari, bulan demi
bulan, tahun demi tahun, sedikit demi sedikit akan muncul `telur
emas-telur emas'bagi kita.

Lalu dimanakah letak angsanya? Tak lain adalah `Sesuatu' (dengan tanda
kutip) yang saya sebutkan di atas. `Sesuatu' yang semua itu bermuara
kepada diri kita, baik badan kita secara fisik, pemikiran kita, serta
jiwa, emosi dan rohani kita. Dan bila dikembangkan, keluarga adalah juga
merupakan bagian dari `angsa' kita, baik itu manusianya, suasananya,
semangatnya,
kebersamaannya, rasa cita kasihnya, keteduhannya dan semua hal yang bisa
memastikan bahwa kita bisa akan selalu menghasilkan `telur emas', hari
demi hari, sedikit demi sedikit.

Kisah fabel yang saya ceritakan diatas sepertinya bisa terlihat sebagai
kisah yang terlalu ekstrim. Tapi bila kita mau berkaca pada kehidupan di
sekitar kita, kita mungkin akan sadar bahwa perumpamaan sang peternak
membelah dada angsa untuk segera memperoleh semua telur emas sekaligus
dalam sekejap ternyata banyak terjadi di sekitar kita.

Kita lihat di sekitar kita bagaimana sesorang yang ingin mengejar karir
sampai ke puncak dengan segera, justru mengabaikan kesehatan dirinya
sendiri, pola makannya, jam istirahatnya. Tak lain dia pelan-pelan
membelah dada angsanya sendiri.

Masih banyak diantara kita, dalam menjalankan profesinya, atau dalam
melakukan usahanya, ingin mendapatkan keuntungan yang berlipat dalam
sekejap. Sehingga sampai lupa waktu mengabaikan saat-saat istri dan
anak-anaknya membutuhkan sebuah kebersamaan dengannya. Tanpa dia sadari,
dalam mencoba dia mendapatkan telur emas, justru dia berusaha
`membunuh' si angsa.

Bisa jadi kita sebagai manusia yang memiliki keahlian, ketrampilan,
pengetahuan, semangat, keberanian adalah manusia-manusia yang akan
selalu menghasilkan telur emas-telur emas setiap harinya. Dan hari demi
hari kita selalu bangga akan telur emas yang kita hasilkan. Tapi
yakinkah kita akan selalu ada telur emas ketika kita justru mulai tidak
begitu
menghiraukan angsa-angsa kita. Ketika kita lupa untuk memperhatikan
kesehatan fisik diri kita, ketika kita mulai mengabaikan kesehatan
rohani kita, ketika kita melalaikan sumber daya manusia di keluarga
kita.

Itulah yang saya selalu coba untuk mengingatkan diri saya, bahwa untuk
menjamin selalu adanya telur emas, begitu penting usaha untuk
memberdayakan diri dan keluarga kita.

Sumber: 'Telur Emas' dari Diri dan Keluarga oleh Pitoyo Amrih

Gue orang kaya yang sangat beruntung (Good Reading)

Gue orang kaya yang sangat beruntung


Gue adalah orang yang terkaya di dunia loh! Dan gue juga orang yang
paling beruntung. Gak percaya...? Mari kita buktikan!

Gue menikah di usia yang sangat muda (umur 22 tahun) dan sekarang udah
punya anak cewek umur setahun. Gue sekeluarga tinggal di Bali jauh dari
orangtua, jauh dari mertua dan yang paling penting jauh dari sanak
saudara yang gak ada gunanya, kecuali cuma buat komentar dan ngegosipin
kehidupan keluarga kita. Rumah kontrakan yang kita tinggalin tepat di
depan dan dibelakang sawah. Bo! Atmosfirnya bagus banget buat kesehatan
keluarga kita, ditambah dengan lingkungannya yang gak usil, bener-bener
bagus buat perkembangan otak anak gue. Tinggal di lingkungan tradisional

seperti sekarang ngebuat anak gue kaya akan referensi, karena gak jauh
dari tempat tinggal kita (+/- 10 menit) udah ada Kuta yang bernuansa
Internasional. Kurang mewah apa coba?

Gue gak butuh pamer! Jadi gue gak perlu keluar duit yang gak perlu cuma
buat beli pakaian model terbaru, atau tas dan sepatu yang matching, atau
make up yang bikin muka gue jadi makin kaya ondel-ondel, atau perhiasan
yang ngebuat mata bandit menatap tajam. Yang gue perluin buat diri gue
sendiri cuma makan 3 kali sehari dengan menu seimbang antara
karbohidrat, protein, vitamin & mineral dan gue juga masih sanggup buat
beli susu! Kurang mewah apa coba?

Untuk kebutuhan sekunder dan tertier, gue cuma punya TV 14 inchi merk
Sanyo (dimana acaranya emang gak guna buat ditonton, jadi TV ukuran
segitu udah berlebihan banget), kulkas kecil buat taruh air es dan buah
segar, tape mini buat nyetel musik Mozart pengantar tidur, DVD player
(cuma sesekali dipakai), Setrika (cuma sesekali dipakai), laptop (cuma
sesekali dipakai) dan terakhir motor Honda supra fit cicilan yang
perawatannya gak mengeluarkan banyak biaya, yang hemat BBM, dan kalo
pecah ban dan rusak velg cuma ganti beberapa puluh ribu aja. Kurang
mewah apa coba?

Soal rasa aman, udah jelas gak bakal ada maling yang minat buat ngambil
barang gue, secara gue gak pernah nyimpen emas dan barang elektronik
yang gue punya ENGGA BANGET! Jadi gue gak perlu was-was kalo pergi dalam

waktu lama. Selain itu, Bali gitu loh! The savest place on earth...
Kurang mewah apa coba?

Gue dan suami jobless. Jadi kalo ditanya orang apa pekerjaan kita,
paling kita jawab SENIMAN. Terus gimana kita bisa membiayai kehidupan
sehari-hari? Good question! Kita jalin hubungan yang baik dengan
beberapa foreigner. Mereka pesan barang-barang etnik lewat kita (semacam
sepatu etnik, sendal etnik, tas etnik, topi, etc), terus kita punya
tukang yang bakal ngerjain pesanan-pesanan tadi di rumah masing-masing,
setelah selesai mereka bakal nganterin pesanan ke rumah dan kemudian
kita tinggal mengirimnya ke cargo. Gampang khan? Kita gak butuh NPWP
karena udah ada cargo yang mengurus semua, karena itu kita juga gak
pernah bayar pajak karena usaha kita adalah "usaha siluman". Tapi yang
jelas, begitu barang nyampe di cargo, kita udah tinggal kipas-kipas duit
karena bayaran langsung ditransfer via rekening. Soal quality control,
udah ada orang tuh yang kita bayar buat ngejaga kualitasnya. Jadi kita
gak perlu kerja banting tulang dari jam 9 pagi sampe jam 5 sore dengan
bayaran gak seberapa dan otak butek karena pekerjaan yang membosankan,
tapi tiap minggu kita dapet duit minimal 10 juta. Kurang mewah apa coba?


Untungnya kita gak kalap, dalam artian dapet duit segepok langsung
belanja belanji. Kita cuma ambil sebagian kecil buat kebutuhan
sehari-hari dan sisanya... invest lah. Jadi uang tadi bisa terus hamil
dan hamil terus dan terus dan terus. Kurang mewah apa coba?

Dengan kehidupan yang santai dan tanpa kerjaan seperti sekarang, gue dan
suami bisa 24 jam terus-terusan sama anak gue, Qiu Mattane Lao. Kita
bisa pantau terus perkembangannya, kita bisa main terus tanpa henti dan
semakin lama kita bertiga udah seperti satu tim yang kompak dalam
berbagai urusan. Urusan jalan-jalan tiap hari, hayuh! Urusan main
ujan-ujanan, okeh! Urusan main pasir di pantai, tob banget! Coba mikir,
bapak atau ibu mana yang bener-bener bisa terus-terusan sama anaknya
selama 24 jam dalam sehari dan 365 hari dalam setahun? Kurang mewah apa
coba?

Tx God gue dapet suami yang... GUE BANGET! Gue bener-bener dapet teman
hidup. Yak... betul! Bener-bener teman hidup. Gue bisa curhat soal cowok

yang ini lah, yang itu lah. Gue juga bisa diskusi soal politik, sosial,
ekonomi, etc.
Gue juga bisa protes soal apa aja ke suami gue. Dannn begitu juga
sebaliknya. Karena gue gak bisa masak, suami gue yang masak. Karena
suami gue gak pernah bisa rapi, gue yang gila akan kerapian (persis
Monica di Friends) bakal dengan senang hati beres-beres rumah. Karena
gue gak pernah doyan nyuci baju, suami gue yang ngerjain. Karena gue
seneng nyuci piring, gue yang kerjain. Jadi gue gak perlu terperangkap
dalam sektor domestik tuh! Kurang mewah apa coba?

Karena gue gak pernah stress, frekwensi marah-marah gue jadi berkurang
drastis kao dibandingin sama masa kuliah dulu. Dengan begitu, semasa gue
hamil bawaannya hepi terus. Dengan begitu pas anak gue lahir, dia jadi
gak rewel sama sekali. Beda banget sama bayi-bayi lain yang cengengnya
minta ampun. Karena kita ngurusin anak berdua aja (bener-bener berdua
loh!), kita jadi mengerti konsep membesarkan anak. Tiap pagi, suami gue
yang ngasih makan Matanlo (panggilan buat Qiu Mattane Lao), karena gue
selalu susah buat bangun pagi. Selesai makan, suami gue bawa Matanlo ke
pasar buat belanja. Selagi mereka belanja, gue beres-beres rumah.
Sepulang dari pasar, gue mandiin Matanlo. Dan seterusnya, dan
seterusnya. Coba gue tanya satu hal... ada berapa sih bapak-bapak yang
punya inisiatif buat ngasih makan atau mandiin anaknya? Kalo bukan tugas
sang istri, paling dilimpahin ke baby sitter. Mampus sana tuh anak
tumbuh dan hidup dengan mental pembantu. Kurang mewah apa coba?

Dan terakhir, gue suka (bahkan udah jadi hobi kayanya) buat bersyukur.
Semakin gue beryukur,gue negrasa hidup gue semakin kaya dan semakin
mewah. Dan gue semakin ngerasa gue adalah orang yang teramat sangat amat

banget BERUNTUNG!

Paradoks ?

Apakah Anda termasuk eksekutif yang mudah cemas dan berkata :"Saya
merasa seperti dikejar target," ataukah selalu optimis dan berkata
:"Saya menyukai tantangan baru."

Penelitian Salvatore R. Maddi dan Suzanne C. Kobasa : The Hardy
Executive : Health Under Stress (Homewood, IL, Dow Jones-Irwin, 1984)
menunjukkan bahwa mereka yang mananggapi stress dengan kesabaran,
memandang pekerjaan sebagai tantangan yang menyenangkan, memandang
perubahan sebagai peluang bertumbuh, mampu menghadapi stress secara
lebih baik dan berhasil melewatinya tanpa kesulitan yang berarti.

Seolah merupakan paradoks, sebuah peristiwa (baca : pekerjaan) yang
sama, dapat dipersepsikan berbeda tergantung dari cara seseorang
men-sikapinya, apakah menggunakan pemahaman yang tepat atau
sebaliknya. Demikian pula apakah peristiwa tersebut diinginkan ataupun
tidak.

Sebuah peristiwa yang menegangkan apakah berupa target penjualan,
deadline projek, pengembangan produk baru dsb. jika disikapi secara
tepat dapat dianggap sebagai sebuah tantangan yang mengasyikkan.
Apalagi jika peristiwa tersebut diberi muatan emosi menjadi suatu
sasaran yang kita inginkan.

Jika stimuli dipersepsikan sebagai sebuah ancaman …. biasanya rasa
tegang muncul dalam bentuk rasa cemas, takut, bahkan fobia. Pada
situasi seperti ini kadar hormon Kortisol (hormon penyebab stress)
dalam darah akan meningkat. Sebaliknya jika stimuli tersebut
dipersepsikan sebagai sebuah tantangan maka ketegangan tersebut
dirasakan sebagai hal yang menggembirakan dan menyenangkan. Dalam
keadaan seperti ini hormon pengendali stress Dehydroepiandrosterone-S
(DHEA-S) yang justru meningkat.

Seseorang yang memahami kesuksesan sebagai sebuah proses
pembelajaran dan bekerja dengan hati yang gembira, berpotensi tumbuh
dan meraih prestasi terbaiknya.

Itu sebabnya "kecerdasan sikap" sebagai sebuah pengetahuan dan
keterampilan hidup perlu dikenalkan kepada karyawan sejak dini.

Isywara Mahendratto